Sosial Media

Sudah Siapkah Anda Untuk Pacaran???


Sudah siapkah anda untuk menjalin sebuah hubungan? Sudah siapkah anda untuk melangkah lagi ke dunia pacaran? Sebenernya apa sih konsepsi dari pacaran itu sendiri? apakah hanya sekedar simbol atau status yang melekat pada sebuah hubungan cinta yang konteksnya adalah kekasih. Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu jalan yang kita pilih itu seperti apa, bukan hanya pilihan yang serius tetapi pilihan yang sederhana juga harus dipahami dengan dalam, kenapa??? jawabannya sangat sederhana, karena jalan yang kita lalui adalah sebuah proses yang dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang berkualitas. Nahh dari pernyataan itu kita bisa menarik benang pertanyaannya, Apakah pacaran itu sebuah jalan yang serius atau jalan yang sederhana??? Jawabannya tergantung anda menempatkan kata Pacaran itu dimana, apakah hanya sekedar membahagiakan diri, mencari teman dekat yang bisa diajak jalan, atau untuk mempersiapkan masa depan yang lebih cerah?

Baca Juga : Catatan Tidak Penting Mengenai Seorang Jomblo

Tidak sedikit orang yang sudah dewasa memandang hubungan pacaran adalah sebuah hubungan fana, hubungan yang memandang dari segi kesenangan saja, entah perempuan ataupun pria. Padahal dengan umur yang hampir mendekati kata tua, sudah seharusnya memiliki pandangan yang jauh kedepan, mencari seorang kekasih yang benar- benar sudah siap diajak berlari berdampingan, bukan hanya sekedar mencari kenyamanan dan kesenangan saja. Apakah pemikiran seperti diatas menunjukkan bahwa pribadi seseorang belum siap untuk membangun hubungan yang serius, apakah mereka salah? No, it's not saya tidak bisa mengatakan benar atau salah, untuk manusia yang hidup di negara demokrasi seperti Indonesia saya rasa sah- sah saja.

Dalam dunia cinta, anda pasti sudah kenal kisah cinta sejati antara Romeo & Juliette yang dikarang oleh William Shakespears. Saya kurang sependapat dengan karyanya William Shakespears tentang cinta sejati antara Romeo & Juliette, kalau dilihat dari sudut pandang era Shakespears mungkin kisah seperti itu masih lumayan masuk akal sih, tetapi kalau kita lihat di era sekarang ini kayaknya sebesar apapun cinta seseorang terhadap sesuatu, masih kalah dengan ketakutan akan kematian. Bukankah dikaryanya Shakespears itu diceritakan bahwa Romeo meninggal karena minum racun, kemudian karena sang kekasih tewas mengenaskan, akhirnya Juliette minum sisa racun itu, dan keduanya meninggal bersama. Cerita itu menunjukkan cinta sejati dari perspektifnya William Shakespears, tetapi menurut saya itu bukan cinta sejati yang sesungguhnya, karena ketika kita berbicara mengenai the real love in the real world, ketika salah satu ditinggal pergi maka bukan sebuah kewajiban kita untuk mengejar yang sudah pergi itu, melainkan kita dituntut untuk berpikir lebih realistis, hal itu berlaku untuk konteks ditinggal mati ataupun ditinggal pergi.

Baca Juga : Menelaah ke-Jombloan dari Sudut Pandang Positif

Masih terkait dengan berpikir realistis, saya ambil contoh ketika pacar kita memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan dengan berbagai alasan, kita bisa mempertahankan hubungan itu dengan cara ber argumen dengan si doi, tetapi kita lihat dulu letak permasalahannya dimana, kalau dia memutuskan kita karena dia udah mendapatkan yang lebih baik dari kita, saya kira hal seperti itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi, lebih baik melepaskan dan intropeksi diri, apa sih yang salah dengan aku sehingga dia berpaling dengan yang lain, dan ketika udah dapat titik permasalahannya, detik itu juga cobalah untuk merubah diri (Konteknya Positif), tetapi bisa aja titik permasalahannya bukan di diri kita, melainkan di dia, mungkin dianya yang terlalu Brengsek dan tak punya tanggung jawab akan sebuah hubungan, dan untungnya dia dipertemukan dengan yang lebih baik ketika masih masa pacaran, coba pikirkan kalau hal semacam itu terjadi ketika udah di fase pernikahan, akan sangat rumit lagi bukan?

Salah satu pertanyaan yang saya kira sangat esensial adalah Apakah pernikahan dan pacaran itu saling berhubungan? Dan apakah keduanya sama- sama ber-esensi? I think yeah, karena jembatan menuju pernikahan adalah proses dari pacaran itu sendiri, maka dari itu porsi keseriusan antara pacaran dengan pernikahan harus disamakan. Kalau masih berpikir kalau pacaran adalah sebuah hubungan untuk bersenang- senang saja, ya mungkin agak susah masuk ke zona pernikahan, karena pada dasarnya hasil yang bagus sangat berbanding lurus dengan awal yang bagus pula.

Baca Juga : Bukankah Jomblo itu Sangat Menyenangkan?

Permasalahan dalam sebuah hubungan pacaran memang tidak sedikit, apapun yang terjadi, permasalahan menjadikan kita kuat dan lebih kuat, sehingga kita tidak kaget menghadapi hidup yang semakin hari semakin kejam ini. Seberapa besar permasalahan yang terjadi tidak akan jauh dengan langkah awal yang kita pilih, maka dari itu sebelum melangkah lebih baiknya untuk berpikir terlebih dahulu, apalagi ketika berbicara tentang seorang kekasih. Kekasih adalah orang yang akan menemani kita sampai akhir hayat, sangat bodoh menurut saya kalau kita terlalu gampang mengambil langkah untuk sesuatu yang sangat krusial dalam hidup ini.

This is my Opinion about Relationship, saya tidak berniat mengintervensi otak atau pemikiran anda, kalau anda sepakat yaa alhamdulillah, dan kalau ada pernyataan yang berseberangan bisa kita diskusikan di kolom koment dibawah. Semoga hari kalian luar biasa, tetap semangat menjalani hari dan jangan pernah menyerah dalam menghadapi apapun. :D

  














0 Response to "Sudah Siapkah Anda Untuk Pacaran???"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel