Sosial Media

Esensi Pendidikan dan Paradigma Tentang Pendidikan di Masyarakat






“Ma, anak kita kita udah besar yaa? Udah mau lulus SMA, hehe”
“Iya nihh pa, kira- kira Anak kita mau dikuliahin dimana yaa, biar jadi orang sukses”
“Mmmm, aku kira mending Universitas Negeri aja ma, jurusan Komputer, karena dilihat dari persaingan ketat didunia kerja, Jurusan ini prospeknya sangat bagus”
“Wahh, bagus Pa, Mama Setuju, nanti aku cariin Universitas yang paling bagus di Kota ini”

Entah didesa ataupun dikota, bahkan disemua lapisan masyarakat, dialog diatas hampir pasti dibahas oleh kedua orang tua. Mereka ingin anaknya menjadi orang yang sukses kelak setelah pendidikan formalnya selesai, entah dapat kerjaan yang bagus, istri yang cantik atau yang lain. Apakah hal semacam itu tidak terlalu mengintervensi anak- anak? Apakah hal semacam itu tidak membatasi gerak atau kreativitas anak- anak? Atau mungkin hal semacam itu sudah menjadi paradigma di Masyarakat?

Ibu, bapak! Aku ingin menjadi orang sukses sesuai dengan passion yang aku miliki, aku tak minat dengan jurusan yang kalian pilihkan, aku adalah anakmu, bukan material yang bebas kalian atur, apalagi ini menyangkut masa depanku”

Baca Juga : Kuliah, Buat apa?!?

Kira- kira itu adalah kalimat yang aku ucapkan ketika aku menolak pedidikan yang akan diberikan kepadaku, karena sekolah atau kuliah adalah sebuah proses yang harusnya dinikmati semua orang, bukan atas dasar keterpaksaan. Bukan hanya itu, Mindset banyak masyarakat juga masih beranggapan bahwa Pendidikan adalah jembatan menuju pekerjaan yang cemerlang dimasa depan. Benarkah seperti itu? Bisa jadi benar, karena fakta dilapangan juga banyak lulusan yang bekerja sesuai dengan jurusan yang diambil. Tetapi tak sedikit juga yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan yang diambil, hakikat sesungguhnya bukan disitu, melainkan pola pikir pelajar itu sendiri, pendidikan adalah proses merubah pola pikir dengan cara yang dimiliki pelajar itu sendiri, atau dengan kreativitas yang dimiliki pelajar itu sendiri.

Mungkin ada yang kurang sependapat dengan opini diatas, dan berkata “Woww, Opinimu salah bung, orang tua jauhh lebih tau masa depan kita daripada anaknya”. Memang orang tua adalah panutan, usia mereka jauh lebih tua dari anaknya sehingga begitu banyak pengalaman kehidupan yang mereka dapatkan dibanding anaknya. Tetapi orang tua tidak mengetahui semuanya tentang kita(Anaknnya), tentang keresahan kita, tentang keinginan kita ataupun tentang apa yang kita sukai. Bahkan banyak juga anak- anak yang selalu mengikuti kata- kata orang tuanya dalam hal memilih pendidikan, mereka tidak berani meyuarakan pendapatnya, sehingga akhirnya dia menempuh pendidikan yang tidak diminatinya. Ini bukan paragraf provokasi yang mengajak kalian untuk melawan orang tua, karena dalam agama hal tersebut adalah dosa besar dan sangat dibenci Tuhan. Tetapi bukankah intervensi orang tua terhadap anak itu ada batasannya, tidak semua hal diatur oleh orang tua, terutama pendidikan, apalagi konteks yang kita bicarakan adalah hal yang sangat positif. Kalau kita bisa merubah pemikiran mereka tentang pendidikan yang kita minati melalui opini, yaa rubahlah, karena tidak semua yang dikatakan orang tua itu yang terbaik buat anaknya. Coba bayangkan jika Albert Einstein dulunya dipaksa orang tuanya untuk menekuni Ilmu Ekonomi, atau Muhammad Ali sang legenda Tinju dunia yang passionnya memang dibidang itu, disuruh orang tuanya menekuni bidang masak. Atau lagi, sang ahli sepak bola Lionel Messi yang dulunya tidak boleh berkecimpung didunia sepak bola oleh ibunya, dan disuruh untuk memahami tentang Sains. Apa jadinya mereka? Mungkin kalian ngga bakal kenal nama- nama diatas bukan?

Baca Juga : Intelektualitas Tinggi dan Akal Sehat sebagai Alat Melawan Hoax Pemilu 2019

Pendidikan formal bukanlah satu- satunya jalan menuju pekerjaan yang hebat, yang harus diberi garis merah adalah prosesnya dalam menempuh pendidikan itu sendiri, biarkanlah anak- anak berproses tanpa adanya intervensi yang terlalu jauh dari orang tua, seharusnya campur tangan itu dilakukan ketika sang anak sudah melenceng dari norma kehidupan atau hal- hal negatif, nahh kalau seperti itu orang tua wajib turun tangan, selagi yang dilakukan anak itu positif yaaa biarkanlah mereka berekspresi, melakukan hal yang mereka sukai termasuk dalam hal memilih pendidikan. (#M_Si)








2 Responses to "Esensi Pendidikan dan Paradigma Tentang Pendidikan di Masyarakat"

  1. Mantulll artikelnya

    Kunjungi yu


    writerdaylight.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Setuju gan. Biarkan anak memilih apa yang terbaik untuknya... sebagai orang tua hendaklah mengarahkan dan mendampingi saja...

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel