Sosial Media

Almamater Kebanggaan



Artikel ini berjudul “Almamater Kebanggaan” yang saya tulis berdasarkan sebuah keresahan yang muncul dihati saya. Dengan ditemani secangkir kopi serta laptop kecil, jari- jariku mulai bergoyang diatas keyboard yang sudah rapuh, bahkan hurufnya pun sudah mulai memudar.

Tulisan ini dimulai, ketika saya menginjak kelas 12 SMA dimana otak saya dipacu untuk berpikir, bukan karena memikirkan Ujian Nasional (UN) atau memikirkan gebetan yang sulit untuk dijadikan pacar, melainkan saya mulai berpikir untuk masa depan. Pilihan yang sangat membingungkan antara melanjutkan pendidikan atau bekerja. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya pikiran mulai tercerahkan dan memilih untuk melangkah ke ranah pendidikan formal yaitu kuliah.

Ketika sudah memilih satu jalan, saya kira sudah tidak ada lagi kata “Memutar Otak”, ternyata asumsiku salah, otak yang kecil ini semakin dipicu untuk menjawab anak pertanyaan seperti “Kuliah dimana” serta “Kuliah jurusan apa”. Pertanyaan yang sangat membingungkan untuk siswa bodoh dan pemalas seperti saya, tetapi untungnya saya punya nilai ambisiusitas yang tinggi, sehingga ada sedikit kata bangga pada diri ini.

Seperti halnya siswa- siswa yang akalnya belum terlalu sehat, karena memang minimnya pengetahuan dan pengalaman. Waktu itu semuanya berlomba- lomba untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, kenapa seperti itu? Alasannya sangat simpel, karena lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) mempunyai peluang besar untuk diterima kerja di perusahaan- perusahaan besar di Indonesia maupun di luar negeri.

Betapa kotornya otak ini ketika  peluang kerja dijadikan sebuah tujuan daripada pendidikan, seakan pengetahuan menjadi perihal nomor dua dari sebuah pendidikan. Tetapi memang seperti itulah pikiran saya waktu itu.

Tidak diterima di PTN menjadi sebuah kegagalan yang luar biasa pada diri ini, apalagi teman- teman ataupun sahabat yang mungkin kapasitas otaknya lebih rendah dari saya, mereka semua diterima di PTN unggulan. Tetapi memang seperti itulah kehidupan, keberuntungan lebih dihargai daripada sebuah keterampilan.

Dimanapun diri ini melangkah untuk pendidikan yang lebih tinggi, rasanya sudah ada kepasrahan dalam hidup, yang terpenting adalah bisa kuliah dan mengurangi tingkat kebodohan ini. And Finally kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi jawabannya.

Sedikit memalukan ketika teman- teman kita menari- nari penuh kegembiraan diatas tanah almamater yang membanggakan, sedangkan diri ini penuh dengan penyesalan, tidak bisa berbangga hati karena masuk didalam perguruan tinggi swasta, yang kata orang biayanya lebih mahal serta merupakan kampus prakmatis.

Bagaimanapun juga waktu akan terus berjalan, penyesalanpun berubah menjadi sebuah kenyamanan, berbagai macam quote- quote luar biasa masuk didalam pikiran, seperti “Lebih baik menjadi raja di kerajaan yang kecil daripada menjadi prajurit di kerajaan besar”, artinya kuliah di kampus swasta pun tidak masalah asalkan kita bisa lebih unggul disini, daripada kuliah di kampus negeri tetapi kita tidak bisa muncul dipermukaan.

Quote- quote yang sudah ditelan mentah- mentah seakan membuat rasa nyaman dan aman, tetapi tetap saja tujuan saya kuliah yaitu untuk mempersiapkan diri mencari sebuah pekerjaan, kurang lebih masih seperti itulah pikiran saya.

Perjalanan yang lumayan panjang telah terlewati, banyak sekali pengetahuan yang masuk kedalam pikiran sehingga membentuk sebuah pola pikir baru. Berbagai macam sumber pengetahuan yang telah didapatkan entah dari buku, diskusi, video, dan lain sebagainya.

Pemikiran yang mulai terbuka dan cenderung liar membuat satu pertanyaan subjektif yang saya kira sangat filosofis, “Sebenarnya buat apa sih kuliah?” saya mulai menanyakan kepada diri sendiri, apakah saya bisa menjawab pertanyaan gampang seperti itu dan apakah nanti jawabanku sudah sesuai? Serta apakah ada korelasi antara kuliah di kampus negeri dengan pertanyaan “Buat apa kuliah?”.

Pikiran ini mulai diobrak- abrik oleh pertanyaan gila semacam itu, kalau misalnya saya menjawab “Untuk mencari pekerjaan” lantas, kemana fungsi pendidikan yang lebih substansial? Atau mungkin jawabannya adalah “Untuk membuat diri ini pintar”, tetapi sepertinya membaca buku satu perpustakaan sudah bisa membuat diri ini pintar, bahkan kita tak perlu mengeluarkan biaya yang banyak. Atau mungkin “Ijasah” bisa menjawab pertanyaanku? Tetapi setelah saya pikir- pikir, ijasah tidak lebih dari kertas kusam yang tidak ada gunanya.

Lalu, jawabannya seperti apa?

Saya rasa “Ilmu pengetahuan dan Pembentukan pola pikir” lebih esensial untuk menjawab pertanyaan “Buat apa sih kuliah?”. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan membentuk pola pikir yang lebih maju, harus didukung dengan konsistensi dan komitmen diri sendiri. Lalu dimana peran almamater yang terus dibanggakan itu? Mungkin hanya 20% peran almamater untuk membuat diri ini berkembang, selebihnya itu otoritas dari tubuh kita masing- masing.

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dulu mungkin terlihat sangat eksklusif dimata saya, sekarang eksklusifitasnya mulai menurun karena pola pikir yang berkembang. Boleh saja meng-agungkan almamater unggulan, tetapi kalau sampai merasa rendah karena tidak bisa masuk PTN, itu adalah pemikiran yang dangkal.

Setiap tempat adalah sekolah

Dimanapun kita belajar, tidak akan pernah membuat kita berkembang kalau tidak ada konsistensi dan komitmen yang tinggi, entah perguruan tinggi negeri ataupun swasta, tidak perlu adanya eksklusifitas yang berlebihan, karena pada dasarnya kampus ya tetap saja kampus, prinsipnya adalah tempat untuk belajar dan mengembangkan diri.

Yang terpenting adalah bukan kita yang seharusnya bangga atas almamater tetapi almamaterlah yang seharusnya bangga dengan adanya kita. Karena menjadi mahasiswa yang paham substansi kuliah yang akan menjadikan kita berkembang dan berkualitas.

0 Response to "Almamater Kebanggaan"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel