Sosial Media

Feminisme VS Anti- Femisnis

Sumber : Tirto.id

Gerakan emansipasi perempuan yang akrab diistilahkan “Feminisme” semakin terlihat eksistensinya, hasil dari gerakan tersebut sudah bisa dinikmati oleh kaum wanita terutama di negara serba beragam seperti di Indonesia, salah satunya yang paling krusial yaitu hak memperoleh pendidikan. 

Tetapi pada dasarnya sebuah ideologi yang berkembang didalam masyarakat dapat dilihat dari berbagai macam sisi dan sudut pandang, terutama gerakan feminisme. Kritik dan berbagai macam argumentasi pastinya telah banyak dilontarkan untuk ideologi ini. 

Salah satu gerakan yang sangat frontal mengkritisi ideolgi feminime adalah gerakan Indonesia Tanpa Feminis. Gerakan ini muncul lewat akun Instagram dengan berbagai macam postingan yang menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia tidak membutuhkan ideologi feminisme. 

Berbagai macam propaganda telah dibuat untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahan dari ideologi feminisme. 

Salah satu argumentasi yang sering digembor- gemborkan yaitu “Indonesia tak butuh feminis, karena urusan hak dan kewajiban sudah diatur dalam ajaran Islam”. 

Salah satu pernyataan dari Indonesia Tanpa Feminis adalah bahwa wanita tak membutuhkan ideologi feminisme, karena dalam agama Islam sudah ditetapkan aturan sesuai dengan porsinya masing- masing baik bagi laki- laki maupun bagi perempuan. 

Gerakan anti- feminis ini acuannya lebih ke agama Islam, dimana perempuan pada dasarnya sudah sangat dimuliakan, dijaga dan dihormati. 


Agama Islam muncul lebih dulu daripada ideologi Feminisme, dan agama Islam juga sudah mengatur sedemikian rupa hak dan kewajiban seorang perempuan, oleh sebab itu gerakan feminisme dianggap bertentangan dengan agama Islam. 

Kurang lebih seperti itulah argumentasi dari gerakan anti- feminis di Indonesia. 
Sumber : http://spiritmahasiswa.trunojoyo.ac.id

Dilain sisi, meskipun banyak yang tidak setuju dan mengkritisi, gerakan feminisme masih marak digembor- gemborkan. Kesetaraan gender dan penghapusan penindasan masih sangat diperjuangkan oleh kaum perempuan. 

Budaya patriarki sebagai budaya yang sudah tak relevan lagi dan dianggap sangat merugikan kaum perempuan harus dipotong sampai ke akar- akarnya. 

Pada zaman dahulu, budaya patriarki sangat mengekang dan membatasi hak- hak perempuan, entah itu hak berpolitik, hak mendapatkan pendidikan, hak ekonomi dan lain sebagainya. Tetapi atas suara dan gerakan feminisme yang sudah sejak lama digembor- gemborkan, kini perempuan memiliki hak yang sama seperti halnya laki- laki. 

Kita bisa melihat banyak sekali perempuan- perempuan yang bisa kuliah ke luar negeri untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi, atau hak- hak perempuan untuk bisa bekerja menghidupi diri sendiri, atau mungkin kursi pemerintahan yang sekarang telah banyak diduduki oleh kaum perempuan, dan masih banyak lagi. Semua produk tersebut merupakan hasil kerja keras dari gerakan feminisme. 

Konsepsi dasar dari feminisme sebenarnya tidak menentang sama sekali dengan ajaran Islam yang telah lama ada. Ideologi feminisme tidak pernah melawan Islam sebagai pedoman bagi penganutnya. Karena pada dasarnya agama Islam dan Feminisme memiliki arah yang sama yaitu menentang penindasan. 

Penindasan yang masih marak terjadi terutama kepada kaum perempuan yaitu pelecehan seksual, pemerkosaan, eksploitasi perempuan, dan lain sebagainya. Jenis- jenis penindasan seperti ini sangat merugikan dan membuat resah kaum perempuan. Sehingga saya rasa gerakan feminisme masih sangat relevan untuk diperjuangkan guna memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kaum perempuan. #M.Si



0 Response to "Feminisme VS Anti- Femisnis"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel