Sosial Media

Datang dan Pergi itu Biasa

Unsplash.com


Sejenak saja pikiran ini teralihkan, ketika otak berusaha membangun imajinasi untuk dituangkan dalam sebuah karya abadi, sekejap didalam pikiran tergambar satu sosok yang menurut pandangan subyektif saya sangat cantik bak bidadari. Memang pikiran ini terlalu liar perihal imajinasi, terkadang tanpa dikendalikan pun otak bisa saja bermain dengan sendirinya.

Pikiran ini mencoba untuk menutup imajinasi dan kembali menulis sebuah karya, tetapi apalah daya diri ini terlalu lemah dan rapuh untuk tidak memikirkan seseorang yang dipuja. Mungkin cuma satu cara untuk menutup imajinasi ini ; Menembakkan timah panas tepat ditengah kepala dengan jarak lima sentimeter.

Untuk seorang yang telah mengikat hati dengan seseorang yang lain, sepertinya akan terlalu berat untuk tidak memikirkannya walaupun hanya satu detik saja.

“Ahhhh, diri ini terlalu lemah”

Terlalu sulit untuk melepas ikatan hati yang telah lama dibangun bersama, yaa meskipun sebenarnya secara kesepakatan sudah terputus, tetapi diri ini masih terlalu berharap dan sepertinya akan terus mengharap.

Meskipun kata “Putus” telah lama disabdakan, tetapi iklim kasih sayang masih sering dirasakan, bahkan komunikasi pun masih terus dilakukan.

Tidak jarang, diri ini berjalan diatas aspal yang sama sembari ngobrol terkait masa depan, bukan masa depannya kita, tetapi lebih tepatnya ngobrol masa depan diri masing- masing.
Diri ini masih ingat, ketika obrolan manis berlangsung, waktu itu ada sebuah janji suci yang di bangun bersama.

“Sepertinya km akan menjadi yang terakhir buat aku, dan aku akan menjadi yang terakhir buat km”

Kata- kata seperti itu akan memicu hormon dopamin (hormon kebahagiaan) di dalam tubuh manusia dan akan memunculkan kebahagiaan, bahkan mungkin kadar hormon yang diproduksi jauh lebih tinggi dari mencandu sabu ataupun ganja.

Ohh begitu bahagianya hati ini”

Tetapi waktu akan terus berjalan dengan sendirinya, pemikiran akan terus berkembang begitupun hati. Seperti kata orang- orang liberalisme bahwa otoritas penuh manusia terdapat pada diri mereka sendiri, tetapi saya sangat tidak setuju dengan prinsip seperti itu, saya kira manusia tidak akan pernah memiliki otoritas akan hati, bahwa Tuhanlah yang memiliki hak penuh untuk membolak- balikkan hati ini.

Seolah bertemu dengan jalan bercabang, saya memilih sisi kanan dan dia memilih sisi kiri. Berjalan, berjalan dan terus berjalan. Semakin kaki ini melangkah maka kita akan semakin terpisah. Mata ini tidak akan pernah tau, jalan seperti apa yang akan dilalui didepan, apakah kaki ini akan bertemu lagi dijalan yang sama atau tidak.

Sangat beruntung diri ini hidup di era digital dengan kemudahan media komunikasi yang ditawarkan, dimanapun dan bagaimanapun keadaannya kita bisa tetap berkomunikasi, hal ini pun membuat hati kecil ini berbahagia, walaupun terkadang dia pergi tanpa komunikasi dalam waktu yang cukup lama.

Selalu ada sisi berseberangan didalam hidup ini, misalnya saja kata kebahagiaan yang selalu berjalan beriring dengan kata kesedihan. Hati ini akan selalu bahagia ketika bisa berkomunikasi dengan mantan pujaan hati, entah hanya sebatas menyapa atau mengingatkan sarapan dan memberikan ucapan selamat malam. Sebaliknya, hati ini akan terasa teriris ketika tidak ada respon komunikasi sama sekali.

Meskipun terkadang datang dan pergi, tetapi hati ini tetap berusaha untuk selalu menjaga. Ketika hati mulai nyaman dengan sangkarnya, seakan sulit berpindah tempat walaupun ada banyak pilihan sangkar yang lebih bagus.

Dilematis? Pasti, seperti itulah yang diri ini rasakan setiap melewati detik demi detik waktu yang telah terlewati.

***

Pernah merasakan hal seperti diatas? Seakan tubuh ini berada dalam situasi yang membingungkan, antara maju atau mundur. Kedua pilihan tersebut pastinya ada resiko yang diambil, memilih melupakan semua kenangan yang telah lama dibangun bersama atau menunggu sembari merasakan sakitnya ketidak pastian.

Itulah aspek kehidupan, selalu ada pilihan dalam setiap jalan. Tugas kita sebagai seorang manusia hanya memilih jalan yang dirasa baik untuk diri kita, selebihnya biar Tuhanlah yang menentukan.

So, make a choice………

0 Response to "Datang dan Pergi itu Biasa"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel