Sosial Media

Mahasiswa Anarkis atau Polisi Represif?

Source : lensaindonesia.com


Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!

Sepertinya sudah sangat lama setelah rezim orde baru diruntuhkan oleh mahasiswa dengan persatuan dan teriakannya yang lantang. Demonstrasi besar- besar an dibanyak titik di Indonesia seakan membuat iklim pergerakan mulai massif kembali. Bukan hanya aktivis mahasiswa yang lantang meneriakkan aspirasinya tetapi mahasiswa yang selalu berorientasi pada akademik yang anti organisasi pun juga ikut berpartisipasi turun ke jalan.

Masifnya aksi rakyat Indonesia bukan hanya terjadi di jalan saja, melainkan banyak juga propaganda- propaganda yang disebarkan melalui sosial media. Semuanya lantang menolak Rancangan Undang- Undang (RUU) yang dianggap nyeleneh dan cenderung merugikan rakyat Indonesia.

Kebijakan dari pemerintah memang terkadang menimbulkan polemik yang begitu besar sehingga memaksa mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi guna meneriakkan aspirasi dari rakyat Indonesia. Tapi tak apa, karena demo adalah bagian dari demokrasi, yang terpenting adalah tetap mengikuti mekanisme yang ada.

Sebenarnya yang sangat krusial yang harus dibahas selain penolakan RUU yang dianggap ngawur adalah nilai kemanusiaan yang sedikit kurang diperhitungkan serta adanya pembagian kelompok yang saling berseberangan antara Mahasiswa dan Aparat.

Banyak sekali propaganda serta cuplikan video yang tersebar luas di media masa yang cenderung menyudutkan salah satu pihak, disatu sisi ada yang mengatakan bahwa aparat terlalu represif, memukuli dan bertindak semena- mena kepada mahasiswa bahkan ada yang sampai luka parah. Di sisi lain ada yang mengatakan bahwa Mahasiswa terlalu anarkis sehingga perlu adanya tindakan tegas dari aparat.

Saya mahasiswa yang sangat aktif di media sosial terutama di Instagram. Pada saat aksi serentak kemarin, beranda insragram saya dipenuhi dengan berbagai macam kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepada mahasiswa. Pemukulan, penendangan, serta pengeroyokan oleh aparat terhadap mahasiswa sontak membuat saya geram.

“Dimana nilai kemanusiaannya?!?”

“Apakah seperti itu kalian menghakimi kami?!?”

Sebagai seorang mahasiswa yang katanya kaum berintelektual tinggi, saya mencoba untuk menahan emosi dan tidak ingin bertindak bodoh hanya karena melihat satu sudut pandang saja.

Seperti halnya seorang filsuf yang mempertanyakan segala macam hal, saya mencoba membentuk pertanyaan sederhana untuk diri saya sendiri. “Apakah memang aparat seliar itu?”

Kayu tidak akan terbakar kalau tidak ada api yang menyulut dan api tidak akan membesar kalau tidak ada pemantiknya, prinsipnya seperti itu bukan?

Sampai disini pikiran saya mulai terbuka untuk berbagai macam sudut pandang. Aparat tidak akan beringas jika tidak ada yang memicunya. Tetapi kalau memang aparat berbuat semena- mena terhadap mahasiswa tanpa didasari pemicu yang jelas, mungkin aparat tersebut bukan manusia. Karena bagi penulis, manusia tidak akan pernah dianggap manusia jika mereka tidak bisa memanusiakan manusia.

Tetapi sekarang mulai muncul pertanyaan lagi, “Seberapa besar sih pemicunya? Sehingga mahasiswa diberlakukan seperti binatang yang tidak ada artinya”.

Kalau memang sebatas teriakan “Aparat anjing!” “Aparat Bangsat” dan lain sebagainya, apakah setimpal jika mahasiswa dikeroyok dan diinjak dengan sepatu besar yang sangat istimewa yang dimiliki oleh aparat?

Aparat bukan hakim ataupun algojo yang memiliki otoritas hidup matinya orang lain. Injak, pukul, tendang dan lain sebagianya itu merupakan tindakan yang sangat represif dan tidak manusiawi.

Ada salah satu cuplikan video yang membandingkan antara tindakan represif aparat dengan tindakan anarkis mahasiswa. Karena sudah banyak sekali cuplikan video dari tindakan represif aparat, saya juga mencoba melihat video anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap aparat.

Dalam video tersebut terlihat ada tindakan menendang aparat yang sedang mengamankan aksi demontrasi. Banyak mahasiswa hanya berdiri didepan blokade aparat, tetapi beberapa mahasiswa ada yang menendang aparat bahkan sampai dua kali.

“Terus, siapa yang salah?”

Entahlah, lagi- lagi ini soal api yang telah dipantik. Tetapi aparat juga manusia yang memiliki tingkat emosional seperti halnya mahasiswa, aparat tidak akan cuma diam menunggu instruksi pimpinan ketika tindakan tak layak dilayangkan ke mereka.

“Sekali lagi, siapa yang salah?”

Saya tidak tau, dan saya pun tidak bisa memihak, karena antara aparat dan mahasiswa adalah bagian dari rakyat Indonesia yang saling terikat persaudaraan satu tanah air.

Antara tugas mahasiswa sebagai demonstran ataupun tugas aparat sebagai pengaman demonstrasi, yang terpenting bukan siapa yang dapat menyuarakkan aspirasinya dengan lantang ataupun siapa yang bisa mengamankan demonstrasi dengan profesional. Tetapi disampipng itu semua, ada persoalan yang lebih krusial yang harus dilirik lebih dalam lagi yaitu nilai kemanusiaan.

Sedikit mengutip nilai dari ideologi Liberalisme, bahwa setiap orang memiliki otoritas penuh terhadap dirinya sendiri. Apakah itu artinya kita memiliki hak untuk memukulkan tangan ke wajah seseorang? Jelas tidak, kebebasan itu bisa terbatasi oleh kebebasan orang lain yang artinya meskipun manusia mempunyai otoritas menggerakkan seluruh badan- dalam hal ini adalah memukul. Tetapi disamping itu manusia juga memiliki hak untuk tidak disakiti dalam hal ini adalah fisik.

Sekali lagi itu perihal kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi dari apapun. Bahkan almarhum Gus dur pernah mengatakan “Yang lebih penting dari politik adalah Kemanusiaan”.


Apapun kepentingannya, entah itu demonstrasi ataupun mengamankan demonstrasi, nilai kemanusiaan tetap menjadi prioritas pertama dan utama sebagai bentuk penghargaan atas kehidupan seseorang. (Semarang, 2019)


0 Response to "Mahasiswa Anarkis atau Polisi Represif?"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel