Sosial Media

Perempuan dan Patriarki


Source : https://lakilakibaru.or.id

Kebudayaan memiliki peran yang sangat penting untuk mengarahkan peradaban manusia, sehingga kehidupan yang berlangsung dapat berjalan sesuai dengan koridornya masing- masing. Tetapi apa jadinya jika kebudayaan yang menjadi pegangan setiap orang cenderung mendiskriminasi sebagian kaum, sebut saja budaya patriarki yang selama ini masih mengakar dan terus berkembang.

Budaya patriarki yang bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan pada akhirnya disadari secara kolektif, sehingga menimbulkan kesadaran bahwa sebenarnya kaum perempuan telah ditindas dengan adanya budaya patriarki tersebut. Dari munculnya kesadaran, lalu timbulah pergerakan perempuan yang menjadi dasar untuk melakukan transformasi sosial guna membangun budaya yang lebih menguntungkan antara pria dan wanita.

Berbicara mengenai patriarki di Indonesia, sepertinya kita semua harus berterima kasih kepada pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini, karena berkat beliau budaya patriarki di Indonesia bisa sedikit terkikis. Kartini merupakan sosok inspiratif yang lahir pada abad ke- 19, dimana pada waktu itu ada tiga budaya yang menindas perempuan; Patriarki, feodal, serta kolonial.

Sebagai seorang yang cerdas dan concern dengan budaya- budaya yang meminggirkan perempuan, Kartini mencoba memberanikan diri untuk membongkar budaya tersebut dan mencari akar permasalahannya sehingga nantinya beliau bisa merekonstruksi budaya yang pastinya tidak merugikan sebagian golongan tertentu.

Meskipun perjalanan hidup kartini bisa dikatakan sangat pendek, tetapi semangatnya Kartini telah membuka gerbang untuk hak- hak yang bisa diakses perempuan terutama hak mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Budaya patriarki yang telah dipotong di awal abad ke- 20 pada kenyataannya masih dapat menumbuhkan benih- benih kebudayaan yang menindas kaum perempuan. Permasalahan yang telah diselesaikan memunculkan permasalahan baru yang harus diselesaikan pula. Meskipun perempuan telah memiliki hak yang sama dalam menempuh pendidikan yang tinggi, tetapi tetap saja masih banyak stereotype yang muncul untuk melabeli kaum perempuan, seperti ; perempuan itu sifatnya keibuan, perempuan itu lemah, perempuan itu terlalu berperasaan, perempuan itu tidak objektif, dan lain sebagainya.

Dari banyaknya stereotype yang muncul pada akhirnya akan membuat budaya patriarki semakin berkembang dan terus meningkat, dan hal ini akan menimbulkan efek yang sangat merugikan perempuan seperti dalam aspek fisik yaitu pemerkosaan, kekerasan dan lain- lain. Selain itu stereotype pada perempuan juga akan mengurangi peran perempuan dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Banyak sekali propaganda- propaganda yang telah dipublikasikan guna menyadarkan para perempuan bahwa sebenarnya mereka telah ditindas dengan budaya patriarki. Bahkan dalam ranah perfilman yang bisa dikatakan sebagai produk yang sangat diminati kaum milenials, saat ini telah memberikan banyak konstribusi aktif untuk memberikan kesadaran bagi kaum perempuan, seperti adanya film Captain Marvel, Wonder Women dan lain- lain.

Antara Perempuan dan Pria pada hakikatnya harus memiliki peran dan hak yang sama dari berbagai macam aspek. Perempuan tidak bisa dicap lemah dan lebih rendah daripada laki- laki. Salah satu representasi dari keberanian dan kuatnya perempuan adalah sosok Malala Yousafzai yang berasal dari Pakistan. Sejak umur 15 tahun dia sudah menjadi aktivis untuk hak- hak pendidikan bagi kaum perempuan, karena pada waktu itu ada kelompok Taliban yang telah menguasai aspek sosial dan politik di Swat Valley sehingga hak dan peran perempuan dalam ranah pendidikan terpotong.

Source : newsweek.com

Meskipun usianya sangat muda, tetapi Malala sangat aktif untuk menyuarakan hak pendidikan untuk kaum perempuan, sampai pada akhirnya dia ditembak oleh kelompok Taliban dibagian wajahnya.

Dari cerita tersebut, kita tidak bisa menandai kaum perempuan dengan klaim- klaim yang melemahkan, bahwa perempuan itu tidak bisa apa- apa, perempuan itu lemah dan lain sebagainya. Cerita Malala Yousafzai memberikan fakta baru bahwasanya perempuan itu bisa berperan dalam berbagai macam aspek kehidupan.

Budaya patriarki semakin berkembang dengan adanya dukungan dogma- dogma agama yang salah dalam penafsiran guna menyisihkan kaum perempuan. Bahkan terkadang banyak kaum- kaum konservatif yang memiliki pandangan kontradiktif terhadap pergerakan perempuan untuk menuntuk kesetaraan hak.

Perkelahian argumen antara budaya patriarki dengan gerakan perempuan pada akhirnya akan membentuk suatu sintesis baru yang lebih relevan untuk peradaban manusia, sehingga nantinya akan ada kehidupan yang lebih damai dan tenang tanpa adanya kelas antara laki- laki dan perempuan, karena sejatinya kehidupan akan lebih indah ketika melihat dua pasangan berjalan beriring diatas jalan yang sama daripada melihat satu pasangan digiring pasangan yang lain layaknya domba yang ingin dibawa ke ladang.

0 Response to "Perempuan dan Patriarki"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel