Sosial Media

Sebelum Filsafat



Pada zaman dahulu kala, manusia yang hidup didunia ini terkurung didalam mitos yang terbentuk dari peradapan manusia itu sendiri. Mereka percaya dengan banyak hal yang sifatnya tidak rasional. Dulu ada asumsi bahwa pelangi yang muncul dilangit merupakan penampakan dewa- dewi yang bisa dinikmati keindahannya oleh semua manusia, selain itu pernah ada masa dimana manusia percaya bahwa langit merupakan tempat Tuhan mengatur semua kehidupan yang ada dibumi, asumsi- asumsi seperti itu muncul karena perkembangan otak manusia terbentuk dari mitos bersama.

Seiring dengan perkembangan zaman, mitos- mitos yang dipercaya begitu saja dapat dihancurkan dengan adanya pemikiran- pemikiran yang mendasar yang cenderung mempertanyakan banyak hal yang belum diketahui kepastiannya. Mitos- mitos yang tidak bisa diterima dengan akal sehat, pada akhirnya akan tertelan oleh waktu dan akan ditinggalkan penganutnya.

Seperti itulah filsafat, disiplin ilmu ini mengajarkan manusia untuk menggunakan akal pikirnya dengan maksimal sehingga manusia tidak akan lagi termakan oleh mitos- mitos yang cenderung tidak rasional. Filsafat akan membongkar kepercayaan dengan mempertanyakan secara radikal sehingga akan dipastikan kejelasannya sampai ke ujung akar yang bisa dicapai.

Seorang filsuf, Bertrand Russel pernah menyatakan : “Mereka yang tidak pernah hanyut dalam aliran filsafat akan menjalani hidupnya terpenjara dalam prasangka- prasangka  yang lahir dari anggapan umum, dari kepercayaan- kepercayaan dari satu era atau satu negara, serta dari keyakinan- keyakinan yang berkembang dalam pikirannya tanpa disertai dan dipahami dulu melalui akal sehatnya secara merdeka….”

Sangat disayangkan ketika manusia tidak menggunakan akal pikirnya dengan maksimal. Padahal dalam hidup, kita dituntut untuk belajar dan mencari tahu, serta tidak boleh mempunyai sikap fatalis yang hanya mengikuti arus kehidupan tanpa adanya dasar prinsip yang jelas.

Mungkin masih banyak orang- orang yang mengatakan “Buat apa sih belajar filsafat? Cuma membuang- buang waktu saja!”. Memang seperti itulah kerja filsafat, membuang waktu untuk memikirkan banyak hal secara mendasar. Terkadang filsafat mempertanyakan hal- hal yang sifatnya sangat remeh, karena untuk membentuk dasar pemahaman yang lebih kokoh. Ibarat membangun rumah, filsafat merupakan pondasi yang akan memperkuat berdirinya rumah. Tanpa adanya pondasi yang kuat, mungkin beberapa waktu kemudian rumah yang telah dibangun akan roboh dengan seketika.

Filsafat sangat berbanding terbalik dengan cara belajar cepat dan pragmatis. Untuk mempertanyakan dan menjawab sesuatu yang sifatnya mendasar, sangat dibutuhkan waktu yang lama agar tercapai hasil yang tuntas dan dapat diterima oleh akal budi manusia. Karena untuk sampai ke akar permasalahan, sangat dibutuhkan dedikasi yang tinggi dari seorang pemikir.

LALU, APAKAH FILSAFAT BISA BERJALAN SATU ARAH DENGAN AGAMA?

Mempertemukan filsafat dengan agama didalam satu jalan yang sama? sepertinya setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda- beda mengenai hal tersebut. Memang banyak sekali ditemukan kontroversi terkait dengan agama dan filsafat, meskipun pada dasarnya dua hal tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu mencari kebenaran. Tetapi filsafat dan agama memiliki jalan yang berbeda, agama lebih mengutamakan hal- hal yang sifatnya kepercayaan dan pengimanan terhadap sesuatu, sedangkan filsafat berjalan diatas pemikiran dengan dasar rasionalitas.

Tetapi meskipun demikian, filsafat dan agama sebenarnya bisa disatukan. Menurut catatan Rob Fischer dalam bukunya yaitu Approaches to the Study of Religion, beliau menyatakan bahwa filsafat bisa digunakan untuk memperkuat dogma- dogma agama. Filsafat bisa diletakkan dibawah agama untuk menopang agama itu sendiri. Dalam hal ini, segala eksplorasi filsafat pada akhirnya akan membuktikan dan mendukung kebenaran dalam agama.

Tetapi disisi lain, filsafat juga bisa digunakan untuk meruntuhkan dogma- dogma agama melalui pemikiran- pemikiran radikal filsafat. Oleh karena itu tergantung prinsip penggunaan filsafat itu sendiri, karena pada dasarnya filsafat merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mencari kebenaran. Tetap saja, manusialah yang memiliki otoritas terhadap alat tersebut, apakah akan digunakan sebagai penopang ataupun sebaliknya?

Buku “Sebelum Filsafat” karya Fahrudin Faiz akan menjadi dasar pembelajaran filsafat yang sangat mudah dipahami dan sangat nyaman untuk dibaca. Ibarat sebuah proposal, buku ini merupakan BAB I yang wajib dibaca sebelum masuk ke Bab- Bab berikutnya.

Buku ini mencoba menjelaskan dasar filsafat bukan melalui pengertian yang definitif dan cenderung kaku, melainkan dengan berbagai macam ilustrasi dan gambaran umum yang sangat mudah dicerna oleh akal pikiran manusia.

Jujur saja, buku Sebelum Filsafat ini merupakan buku filsafat pertama yang saya baca dan buku ini sangat berkonstribusi membentuk pemikiran saya terkait dengan filsafat. Sebelum membaca buku ini, pemikiran saya terkait dengan filsafat masih sangat abu- abu dan samar, karena banyak anggapan yang menyatakan bahwa “Belajar filsafat hanya membuat kita jadi sekuler, jauh dari agama bahkan yang paling buruk adalah kita jadi ateis”.

Dari asumsi seperti itu lantas membuat saya berpikir dua kali untuk belajar ilmu filsafat, dan pada akhirnya saya menemukan buku pengantar filsafat yang wajib kalian baca sebelum membaca karya filsafat yang lebih kompleks lagi.

“Satu- satunya hal yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa- apa”
-Socrates


0 Response to "Sebelum Filsafat"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel