Sosial Media

Che Guevara Sang Revolusioner



Che Guevara merupakan seorang anak yang dilahirkan di Argentina tetapi memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat luar biasa, bahkan Che rela berjuang dan mengorbankan seluruh hidupnya di beberapa negara bagian Amerika Latin. Perbedaan geografis menurut Che bukan menjadi halangan untuk mencabut ideologi kolonialisme, Che sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan ingin mencabut akar penindasan didunia.

Sangat wajar ketika tokoh- tokoh besar dunia dengan lantang membela tanah airnya sendiri ketika ditindas oleh negara lain. Tetapi berbeda dengan Che Guevara, meskipun dia terlahir sebagai warga Argentina, dia tetap semangat menyulutkan api revolusi di berbagai macam negara, karena bagi dia penjajahan merupakan praktik dehumanisasi yang harus dicabut sampai ke akarnya.

Che Guevara adalah sosok yang sangat kuat dan tangguh, meskipun dia memiliki penyakit asma tetapi hal tersebut tidak pernah menjadi halangan dia untuk tetap belajar dan berkembang. Pada usia remaja, dia pernah memberanikan diri untuk mengelilingi Argentina hanya sekedar ingin tahu keadaan negerinya, karena memang pada waktu itu banyak sekali kemiskinan dan masyarakat yang tertindas.

Menjadi anak yang tidak terlalu mementingkan fashion membuat che pernah dijuluki sebagai “el- chanco” atau babi kecil, tetapi hal tersebut tidak membuat Che sakit hati karena Che mempunyai prinsip bahwa “Lebih baik memoles otak daripada sibuk dengan pakaian”. Di kalangan anak- anak sekolah, dia cenderung memiliki pemikiran yang berbeda karena di usia sekolahnya dia sangat suka membaca pemikiran- pemikiran kiri seperti Marxisme.

Pendidikan politik Che Guevara mulai berkembang ketika dia banyak terlibat dalam perdebatan politik dan aksi jalanan untuk menentang rezim  Juan Peron yang diktator. Che juga ikut tergabung dalam kelompok anak muda nasionalis, Civico Revolucionario Monteagudo.

Pengetahuan tentang politik yang dimiliki Che mulai berkembang apalagi ketika bertemu dengan Fidel Castro di Kuba. Pertemuan dua tokoh revolusioner tersebut membuat api perubahan terus tersulut, apalagi dengan melihat rezim diktator yang terus merampas dan menindas masyarakat.

Kuba merupakan negara kecil yang dipimpin oleh rezim batista yang dinilai sangat diktator dan sangat merugikan masyarakat. Hal ini membuat jiwa revolusi yang bersemayam didalam tubuh Che meronta- ronta ingin membuat suatu aksi perlawanan. Dengan bantuan pasukan gerilyawan serta kecerdasan Fidel Castro, akhirnya Rezim batista bisa ditumbangkan.

Kemenangan Che Guevara dan pasukan gerilya di Kuba tidak membuat Che merasa puas, dia masih mempunyai keinginan untuk mencabut akar imperialisme di negara- negara lain, Che ingin menaruh telur revolusi diberbagai macam negara yang tertindas sehingga nantinya perubahan total menuju kemakmuran akan terwujud.


Meskipun Che memiliki keinginan yang sangat mulia yaitu mencabut imperialisme dari akar- akarnya tetapi kemungkinan terburuk pun tidak bisa ditolak. Che Guevara gagal melakukan revolusi di Bolivia, pasukan gerilya Che yang semakin menyusut membuat kekuatan perangnya semakin melemah yang pada akhirnya Che tertangkap.

Hidup sebentar di penjara sebelum dieksekusi mati tidak membuat Che patah semangat dan goyah, didalam satu kisah menyebutkan sebelum Che diinterogasi, ia memohon untuk bisa bertemu dengan guru sekolah dasar di tempat Che ditahan. Pertemuan singkat dengan guru yang bernama Julia Cortez pun berlangsung, Che berwasiat untuk lebih bisa memperhatikan pendidikan bagi anak- anak di desa tersebut.

09 Oktober 1967, senjata M2 Carbine akhirnya melepaskan 3 timah panas kearah Che Guevara yang akhirnya membuat Che kehilangan nyawa. Kematian Che hanya membuat jasad dan nyawa seseorang hilang, tetapi tidak membuat semangat revolusi yang ditumbuhkan Che juga hilang.

Semangat perjuangan dan cita- cita pemberontakan terhadap imperialisme dan kapitalisme akan tumbuh dan terus tumbuh. Che akan terus hadir dalam kerumunan masyarakat yang menuntut keadilan penguasa, jiwa- jiwa aktivis harus terus dikembangkan untuk membuat perlawanan terhadap kebijakan penguasa yang hanya berpihak pada golongan tertentu saja.

Buku Che Guevara Sang Revolusioner ini ditulis oleh seorang penulis bernama Robert Junaidi, penulisan buku ini sangat rapi dan sistematis sehingga akan sangat mudah memahami konteks tulisan secara historis, apalagi didalam buku ini juga dicantumkan beberapa gambar pendukung pada masa itu sehingga imajinasi pembaca akan sangat terarah.

Buku ini akan menjadi bekal awal seorang aktivis, terutama untuk seorang Mahasiswa baru dengan berbagai macam jurusan, karena buku ini selain mengenalkan sosok Che Guevara, lebih dari itu penulis sepertinya juga ingin pembaca agar menjadi orang- orang yang kritis dan berani menyuarakan pendapat untuk kepentingan bersama.

0 Response to "Che Guevara Sang Revolusioner"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel