Sosial Media

Pemikiran Kartini dan Perempuan Masa Kini


suaramuslim.net

Tokoh emansipasi wanita merupakan julukan yang sudah melekat pada Raden Ajeng Kartini sampai sekarang. Semangat dan pemikiran kritis beliaulah yang membuat hak- hak  perempuan mulai diperhitungkan terutama hak untuk mengakses pendidikan, bukan hanya itu pemikiran- pemikiran yang ditulis di surat yang dikumpulkan menjadi satu buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan bahan refleksi yang sekarang bisa dikonsumsi oleh perempuan- perempuan masa kini.

Akhir abad ke- 19 adalah masa feodal yang sangat kental terutama di Jawa. Feodalisme( adat kebangsawanan) dinilai tidak ramah gender dan cenderung mendiskriminasi kaum perempuan pada waktu itu. Pendidikan, poligami serta hierarki gender menjadi sesuatu yang sangat wajar diperlihatkan di kehidupan Jawa. Hal inilah yang menggugah R.A Kartini untuk berjuang meruntuhkan tembok besar feodalisme.

Pemikiran kritis dan semangat Kartini menjadi modal awal untuk membongkar adat- adat yang cenderung mendiskriminasi. Dulu perempuan tak punya hak untuk mendapatkan pendidikan, perempuan juga tidak punya otoritas untuk memilih pasangan menikah, serta di era feodalisme perempuan memiliki posisi yang sangat rendah dibawah laki- laki. Bahkan untuk menghormati kaum laki- laki saja, perempuan harus tersiksa dengan aturan- aturan yang absurd seperti berjalan jongkok, menunduk, berbicara pelan, dan lain sebagainya.

Pemikiran hebat kartini terbentuk dari buku- buku, diskusi bersama kakaknya (Sosrokartono), serta korespondensi dengan sahabatnya di belanda yaitu seorang feminis bernama Stella Zeehandelar. Kartini menceritakan kondisi perempuan Jawa yang sangat menyedihkan kepada stella, dan stella pun juga menceritakan kehidupan perempuan di belanda pada waktu itu. Perbedaan kehidupan perempuan sangat kontras antara Jawa dengan Belanda. Negeri belanda sudah memiliki sistem yang sangat maju dengan cara menempatkan laki- laki dan perempuan setara di dalam berbagai macam aspek, berbeda lagi dengan kehidupan perempuan Jawa yang cenderung terkungkung dengan adat yang menyengsarakan.

Dengan kegigihan dan semangat Kartini, lambat laun tembok besar feodalisme bisa terkikis dan akhirnya hancur, hal ini yang membuat kaum perempuan seakan menghirup oksigen bersih diluar. Akses pendidikan sudah terbuka lebar, kemandirian kaum perempuan sudah bisa dinikmati, dan perempuan memiliki otonomi yang lebih besar untuk memilih kehidupan yang lebih baik menurut mereka.

Berbeda dengan era kartini, perempuan di era sekarang lebih memiliki kebebasan yang sangat tinggi. Perempuan sekarang sudah bisa melangkah ke berbagai macam aspek kehidupan antara lain ekonomi, sosial, pendidikan, politik, dan sebagainya. Pembebasan perempuan di masa kini tidak lain adalah hasil keringat dan air mata R.A Kartini di masa lalu.

Di masa- masa perkembangan teknologi yang sangat cepat, apalagi didukung oleh mudahnya mengakses informasi di internet, kaum perempuan menjadi sangat ekspresif untuk mengeluarkan pendapat yang sifatnya bisa mengedukasi ataupun mereduksi. Tetapi disamping itu semua, perkembangan teknologi membuat perempuan terlena dan tertidur karena kemudahan dan kenyamanan teknologi.

Teknologi (dalam hal ini smartphone) adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi ataupun mereduksi potensi kaum perempuan. Dengan kemudahan yang ditawarkan smartphone, perempuan bisa mencari berbagai macam informasi sebagai bahan pengembangan intelektual, perempuan juga bisa berkarya dengan cara menuliskan pemikiran di berbagai macam platform. Tetapi disatu sisi yang lain, banyak sekali produk- produk didalam smartphone yang hanya memberikan manfaat hiburan tanpa ada nilai edukasi sama sekali.

Selain perkembangan teknologi yang membuat kaum perempuan tertidur, faktor internal dari pemikiran perempuan pun menjadi hal yang sangat fundamental. Pendidikan untuk kaum perempuan yang diperjuangkan R.A Kartini seharusnya menjadi kesempatan yang istimewa untuk perempuan guna meningkatkan intelektualitasnya, hal ini pun seharusnya menjadi pemicu minat perempuan untuk terus belajar.

Fenomena nikah muda yang marak terjadi, terutama di desa- desa banyak menjadikan minat pendidikan kaum perempuan menurun. Hal ini terjadi karena paradigma perempuan yang sempit yang hanya berpikir bahwa perempuan itu cuma sebatas objek seks ataupun sebagai ibu rumah tangga, sehingga kecenderungan berpikir bahwa pendidikan tidak diperlukan lagi mulai mengakar didalam kerangka berpikir mereka.

Padahal kalau kita telaah lebih dalam lagi, perempuan itu memiliki peranan yang sangat penting untuk kemajuan suatu peradaban. Karena peradaban manusia terbentuk dari pangkuan seorang ibu, hal ini didasarkan pada pendidikan pertama manusia didapatkan dari seorang ibu. Oleh karena itu pendidikan untuk kaum perempuan itu sangat penting sebagai bentuk pengembangan intelektual dan akhlak yang nantinya akan diberikan kepada anak- anaknya.

Di zaman pembebasan dan anti diskriminasi seperti sekarang ini, perempuan sudah memiliki peran gender layaknya laki- laki, tetapi kesadaran akan hal itu masih cukup minim. Penulis melihat masih banyak sekali perempuan yang memprioritaskan pernikahan sebagai goal dalam hidup, padahal pernikahan merupakan ritual yang sangat sakral dan harus banyak hal- hal yang harus dipersiapkan.

Proses penyadaran harus terus dilakukan sebagai bentuk rasa cinta kita terhadap peradaban. Perempuan adalah ujung tombak perubahan, mereka harus memiliki bekal yang banyak sebelum menikah terutama bekal pendidikan yang tinggi. Perempuan harus memiliki kecakapan dan kemandirian dalam berbagai macam aspek, jika perempuan sudah memiliki itu semua maka peradaban yang lebih maju tinggal menunggu waktu saja.

Inilah keresahan Kartini yaitu persoalan pendidikan dan pernikahan, hak- hak perempuan yang telah dibuka oleh beliau, sekarang tidak digunakan dengan baik. Pendidikan yang seharusnya menjadi orientasi untuk kaum perempuan, sekarang dipandang sebagai formalitas saja. Air mata dan keringat kartini yang telah terkuras habis untuk membongkar belenggu adat harusnya dibayar dengan kesadaran yang nyata akan pentingnya pendidikan kaum perempuan. Jangan biarkan pemikiran yang belum tersadarkan membelenggu perempuan dan membuat adat baru yang membatasi perempuan itu sendiri.

0 Response to "Pemikiran Kartini dan Perempuan Masa Kini"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel