Sosial Media

Perihal Membaca..

Unsplash.com

Sedikit membuka kenangan lama yang mungkin telah usang dalam ingatan, jauh sebelum saya menulis tulisan ini, ada masa dimana saya sangat addict dengan buku bacaan, entah sudah berapa lama saya hidup pada waktu itu, tapi yang jelas saya masih suka menangis karena hal- hal sepele seperti ketika temen- temen sekolah suka menjodohkan saya dengan perempuan yang saya tidak suka, jujur waktu itu saya menangis. Tetapi yang terpenting bukan itu, melainkan saya punya kebiasaan yang sangat membantu proses pertumbuhan intelektualitas saya, yaitu perihal membaca…

Saya hidup di sebuah desa yang ga pelosok banget (saya ulangi …. ga pelosok banget), tetapi iklim literasi di desa saya sangat memprihatinkan karena mungkin akses buku bacaan yang sangat susah pada waktu itu. Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada abang- abang penjualan mainan keliling serta book seller yang tidak pernah bosan mengunjungi sekolah saya. Yaa meskipun buku- buku yang dijual adalah buku KW/ Repro/ Bajakan, meskipun demikian mereka telah mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran mereka untuk budaya literasi di desa saya.

Berangkat dari buku- buku kecil seharga 2000 an yang berisi kumpulan indoktrinasi agama seperti azab dan siksaan neraka, dari situ mulai tumbuh minat baca disertai dengan ketakutan akan dosa, cukup efektif saya kira untuk memupuk minat baca serta indoktrinasi siksaan nerakanya hehe. Tetapi bacaan- bacaan tersebut mulai membawa ku masuk kedalam kehidupan yang lebih filosofis, yang selalu menumbuhkan pertanyaan dan keingintahuan akan banyak hal.

Seperti halnya tanaman yang memiliki takdir untuk terus bertumbuh, keingintahuan saya pun mulai tumbuh subur. Eksplorasi kedalam dunia aksara semakin hari semakin lebih dalam, sampai akhirnya saya menemukan esensi dari quotes yang sangat familiar yaitu “Buku adalah jendela dunia”. Dari sebuah buku kita akan diajak melihat kompleksnya dunia ini, dari sebuah buku kita akan disadarkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kapasitas yang sangat luas, dan dari sebuah buku kita akan diingatkan bahwa kita (manusia) adalah entitas yang sangat tidak tahu apa- apa.

Membaca adalah sebuah proses menjadi. Dengan membaca, kita akan menjadi manusia yang memiliki pemikiran terbuka dan memiliki sikap toleran terhadap berbagai macam perbedaan. Bukan hanya itu, aktivitas membaca juga memiliki manfaat mengurangi stres, hal ini diperjelas oleh para peneliti di University of Essex yang mengatakan bahwa membaca selama kurang lebih 30 menit bisa lebih efektif menghilangkan stres daripada mendengarkan musik atau minum teh.

Unsplash.com
Membaca atau dalam hal ini membaca buku adalah salah satu kegiatan yang sangat membosankan untuk mayoritas orang di Indonesia. Premis ini didukung oleh adanya fakta penelitian dari UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) tahun 2012 yang menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua terendah dari 61 negara di dunia. Minat baca di Indonesia sangat memprihatinkan yaitu sebesar 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca buku.

Sangat mengagumkan bukan? Betapa memprihatinkannya tingkat literasi di Indonesia, makanya kita tidak pernah heran jika di era digital ini banyak sekali hoaks menjamur dimana- mana. Penyebab hoaks yang paling mendasar adalah kurangnya tingkat literasi bangsa ini, oleh karena itu otak kritis pun akan semakin tumpul. Tingkat literasi seseorang sangat berhubungan dengan cara orang tersebut mengkritisi suatu hal, oleh sebab itu semakin banyak kita membaca maka sudut pandang yang kita miliki pun akan semakin luas.

Keahlian membaca dan minat membaca adalah dua hal yang sangat berbeda, kesalahan yang selama ini mengakar adalah jika seseorang sudah ahli dalam membaca maka sudah selesai lah untuk mempelajari perihal literasi. Padahal ada yang lebih penting yang harus dipupuk setelah keahlian membaca sudah terpenuhi, yaitu memupuk minat baca. Untuk membuat seseorang minat dalam membaca, perlu adanya kesadaran paling dasar yaitu dari keluarga. Keluarga merupakan sekolah non- formal pertama sebagai tempat pembentukan pola pikir, etika, dan budaya terutama budaya membaca, oleh karena itu perlu adanya pengenalan buku terhadap anak didalam ranah keluarga.

Duta baca Indonesia Najwa Shihab pernah membuat quotes inspiratif terkait dengan membaca, “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca, cari buku itu, mari jatuh cinta”. Ada banyak sekali buku ditelurkan setiap tahunnya dengan berbagai macam genre, dari mulai fiksi, non- fiksi, biografi, sejarah, filsafat, dan masih banyak lagi. Dengan berbagai macam jenis buku yang sudah ada, kita akan sangat gampang untuk memilih buku yang ingin dibaca sesuai dengan preferensi yang kita miliki, cari buku yang sesuai passion kita, lanjutkan dengan cara membaca setiap kata demi kata, seterusnya cinta dengan buku akan mulai bertumbuh. #M.Si


0 Response to "Perihal Membaca.."

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel