Sosial Media

Kebebasan Pendidikan Anak dan Budaya Dialektis Keluarga




Unsplash.com

Menjadi seorang anak terkadang sangat melelahkan, bukan karena kami terlalu banyak bergerak dan bermain, hanya saja ada beberapa pihak yang dengan sengaja menggerakkan serta memainkan hati, pikiran bahkan raga untuk menciptakan ekspektasi buta dengan cara memaksa dan menekan. Lebih dari itu, menjadi seorang anak merupakan karakter yang amat membingungkan. Mereka berkata bahwa kami ialah individu yang bebas berkreatifvitas serta bebas terbang dengan sayap kecil kemanapun kami mau, tetapi ternyata masih ada gunting- gunting nakal yang dengan sengaja melukai bahkan memotong sayap kami.

Ironisnya gunting- gunting yang membantai sayap kami adalah orang yang selalu menebarkan kasih sayang, bahkan secara tidak sadar, hati kami terus memproduksi rasa cinta untuk mereka. Sebut saja pihak- pihak ini adalah orang tua. Mereka ialah karakter yang diciptakan Tuhan dengan segala pengalaman dan kebijaksanaannya untuk memberikan penerangan untuk anak- anaknya.

Tetapi kebijaksanaan yang beliau pahami sesungguhnya bukanlah sebuah kebijaksaan jika hanya melihat dari satu sudut pandang saja, karena pada dasarnya kebijaksanaan ialah bagaimana cara manusia melihat suatu permasalahan dari beberapa angle kehidupan serta dengan kaca mata analisis yang berbeda- beda. Itulah persoalan yang dilihat dari sudut pandang seorang anak mengenai kebijaksanaan orang tua terhadap pendidikan anak.

Bener banget, kalau kata Paulo Freire seorang filsuf pendidikan asal brasil, beliau mengatakan bahwa Pendidikan tidak bakal bisa merubah dunia, pendidikan hanya merubah manusia dan manusialah yang akan berubah dunia. Poin pentingnya ada pada kata perubahan. Pada dasarnya, waktu akan merubah setiap individu yang hidup didunia ini. Sebagai manusia, perubahan yang signifikan ialah perubahan pola pikir dimana perubahan ini tercipta dari sebuah pengalaman serta pendidikan.

Tetapi pertanyaan yang kemudian muncul adalah “Bagaimana kami bisa berubah dengan nyaman jika pendidikan dan pengalaman kami diciptakan oleh orang lain”. Mungkin itu pertanyaan yang muncul pada anak- anak yang dipaksa untuk berjalan diatas mimpi orang lain.

Mungkin masih banyak persoalan seperti itu. Ketika anak menginginkan belajar di bidang filsafat tetapi orang tua membelokkan keinginan itu menjadi studi di bidang kedokteran dengan dalih kepedulian terhadap masa depan anak. Pada akhirnya anak akan bersikap fatalis saja dan menghabiskan sisa- sisa hidupnya dengan keterpaksaan dan ketidaknyamanan.

Bukankah keluarga merupakan wadah pendidikan pertama yang seharusnya memberikan dasar pondasi yang baik? Dan bukankah seharusnya pendidikan itu berasaskan konsep dialektika yang ideal? Tetapi mungkin masih banyak keluarga yang menerapkan sistem otoriter terutama kepada anak, bahkan untuk sekadar menciptakan musyawarah pun sepertinya sangat susah.

Salah satu pengalaman saya yang menjadi dasar keresahan dalam hal intervensi pendidikan keluarga berawal dari kehidupan tetangga saya yang sangat otoriter terhadap pola asuh anak. Semua tindakan dan perilaku anak diatur oleh orang tua dengan cara yang sangat keras. Saat anak melakukan suatu kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, orang tua selalu mengajari dengan cara memarahi ataupun melakukan tindakan fisik, seakan- akan anak dipaksa untuk tidak boleh melakukan kesalahan.

Selain itu dalam hal akademik, anak harus memiliki nilai yang sudah distandarisasi oleh orang tua. Anak harus menguasai semua mata pelajaran yang ada disekolah terutama matematika, IPA, Bahasa Inggris dan lain sebagainya. Kalau si anak mendapatkan nilai dibawah standar yang dibuat oleh orang tua, maka kalimat “Kamu bodoh, tolol, ga punya masa depan” bisa jadi keluar dari mulut orang tua dan bahkan kekerasan fisikpun bisa saja terjadi.

Dalam hal pendidikan agama, tetangga saya selalu memberikan doktrin ajaran Islam untuk anaknya, mulai dari pemikiran, cara membaca Al- Qur’an sampai tata cara Shalat. Dengan cara yang sama yaitu dengan sikap keras dan otoriter. Lagi- lagi jika anak kurang terampil, beliau akan memarahi dengan sangat keras. Padahal pada dasarnya Islam adalah agama yang sangat damai, artinya beliau memberikan pelajaran Islam dengan cara yang tidak Islam sama sekali.

Intervensi pendidikannya berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Orang tua masih berpikir bahwa kesuksesan anak harus berbanding lurus dengan keinginan orang tua tanpa mempertimbangkan mimpi dan harapan sang anak. Lagi- lagi si anak harus menuruti egoisme orang tua untuk memilih studi yang harus ditempuh beberapa tahun kedepan daripada memperjuangkan mimpinya.

Dari beberapa peristiwa diatas, kiranya sangat diperlukan untuk merenung sejenak dan mempertanyakan apakah tindakan semacam itu sudah sangat benar ketika dilihat dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda.

Persoalannya ada pada keberagaman pemikiran yang memunculkan perbedaan keinginan. Meskipun anak terlahir dari sebuah cinta yang diekspresikan melalui persetubuhan antara ibu dan ayah, bukan berarti anak memiliki kesamaan berpikir dengan orang tua. Meskipun anak terlahir dari kesucian rahim seorang ibu, bukan berarti anak menjadi komoditas mati yang terus- terusan mengikuti alur cerita yang diciptakan orang tua.

Bahkan mungkin saja, keberagaman didalam hidup adalah keniscayaan Tuhan yang diciptakan untuk saling bisa toleransi, begitupun dalam ranah keluarga. Antara orang tua dan anak harus sama- sama memiliki toleransi, salah satu implementasinya yaitu dengan menerapkan konsep dialektis. Dengan berdialektika, melihat berbagai macam pertimbangan sang anak ataupun orang tua, sehingga berbagai macam persoalan bisa diambil jalan tengahnya.

Dalam aspek memilih pendidikan anak, konsep dialektis dalam keluarga juga sangat penting. Hal ini dapat membuka ruang diskusi keluarga untuk mengkritisi berbagai macam pertimbangan yang ada. Konsep ini juga akan menempatkan anak sebagai subjek yang memiliki hak untuk bicara dan hak untuk mentukan jalan hidupnya sendiri.

Terkadang memang sistem yang dibuat dalam ranah keluarga cenderung konservatif dan otoriter, sehingga kurang toleransi dengan adanya musyawarah atau diskusi keluarga. Permasalahan yang mendasar tetap saja ada pada pikiran yang mungkin masih kurang terbuka dan tidak ada mind upgrade sehingga pemikiran cenderung usang serta berdebu. Itulah mengapa sistem dialektis dalam keluarga harus diterapkan untuk mengetahui keinginan anak ataupun orang tua dengan berbagai pertimbangan- pertimbangan.

 

0 Response to "Kebebasan Pendidikan Anak dan Budaya Dialektis Keluarga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel