Sosial Media

Nyatanya, Guru Terbaik Bukan Social Media


Sumber : Unsplash

Hampir setiap hari kita menggunakan media sosial untuk keperluan interaksi dengan orang lain, mulai dari Whatsapp, Instagram, telegram, facebook, twitter ataupun yang lain. Dari aktivitas mencari informasi, stalking mantan, sampai membuat narasi provokasi, semua hal tersebut bisa dilakukan menggunakan media sosial saat ini.

Berselancar didunia maya memang sangat menyenangkan, kita bisa tahu aktivitas yang dilakukan idola kita diluar sana, hanya melihat rutinitas artis idola seperti makan malam atau berkebun saja, hal tersebut seakan membuat hormone endorphin kita meningkat drastis.

Kalau kita melihat data pengguna media sosial di Indonesia, jelas sangat tinggi. Menurut Hootsuite (We are Social), pengguna media sosial di Indonesia mencapai 160 juta terhitung pada Januari 2020. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia meningkat 12 juta (8,1 persen) antara April 2019 dan Januari 2020.

Seperti halnya sandang, papan, dan pangan, media sosial seakan sudah menjadi kebutuhan pokok yang harus terpenuhi pada setiap orang. Kebutuhan informasi dan hiburan yang ditawarkan media sosial menjadikan tangan manusia lebih tertarik memegang dunia maya daripada dunia nyata, semua itu terjadi karena kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan media sosial untuk penggunanya.

Pertumbuhan teknologi yang berimbas pada revolusi media sosial menjadikan kebutuhan informasi setiap manusia mudah untuk didapatkan. Zaman dulu orang- orang mencari informasi hanya bisa dilakukan dengan membeli atau meminjam buku fisik, selain itu dengan cara mengunjungi serta berdiskusi dengan orang- orang yang memiliki pengetahuan lebih seperti seorang guru. Tetapi di zaman sekarang ini, informasi dan pengetahuan lebih mudah untuk didapatkan melalui media sosial, lantas apakah peran buku serta guru telah bergeser dan sudah digantikan oleh media sosial?

Sumber : Unsplash

Kita semua tahu bahwa dunia ini dipenuhi dengan interpretasi yang bertaburan dimana- mana, apalagi era digital seperti saat ini sudah menjadi kemudahan untuk meramaikan dunia maya dengan berbagai macam interpretasi. Sialnya jika kita terlalu menghambakan media sosial untuk semua ilmu pengetahuan, kebingungan mungkin saja akan terjadi, faktanya memang banyak sekali informasi didalamnya. Kita ambil contoh isu yang setiap tahunnya pasti muncul dipermukaan yaitu hukum orang Islam mengucapkan natal kepada umat nasrani, disatu sisi ada yang tidak memperbolehkan dikarenakan itu akan mengotori keimanan seorang muslim atau muslimah, disisi lain ada yang memperbolehkan karena untuk menghormati saudara kita sebangsa dan senegara, apakah keduanya salah? Tidak, keduanya sama- sama memiliki dasar masing- masing, entah dasar agama ataupun dasar kemanusiaan.

Satu persoalan saja bisa menimbulkan berbagai macam pemaknaan, pertanyaannya jika kita berguru kepada media sosial, pemahaman mana yang bakal kita ikuti? Berbeda ketika kita berguru kepada manusia yang jelas- jelas memiliki akal dan hati untuk bisa diikuti. Kalau dalam pengertian jawa, guru adalah orang yang digugu dan ditiru, setidaknya kita bisa menggugu serta meniru seorang guru dari cara berpikir dan cara bertindak.

Menurut pendapat penulis yang sangat subjektif dan bisa diperdebatkan ini, sosok manusia sebagai seorang guru masih menjadi panutan yang harus diikuti tingkah dan pemikiran positifnya. Manusia sebagai guru tetap menjadi sumber keilmuan pertama untuk membangun pondasi ilmu seorang murid, terkait dengan pengetahuan tambahan yang bisa diperoleh dari sosial media merupakan informasi penguat setelah berguru kepada makhluk bernama manusia.

Disaat kita sudah memiliki pondasi yang kuat terkait dengan keilmuan yang sedang didalami dari seorang guru, maka kebingungan tentang berbagai macam hal yang didapatkan dari media sosial pun akan sangat mudah untuk dipecahkan, begitupun kalau misalnya belum menemukan jawaban atas persoalan yang didapatkan, kitapun bisa menanyakan secara langsung kepada seorang guru.

Media sosial memang salah satu teknologi digital yang sangat memudahkan manusia untuk saling berinteraksi dengan orang lain serta menciptakan kemudahan dalam mencari ilmu pengetahuan, tetapi seluarbiasanya sosial media dalam menawarkan kemudahan mencari ilmu kepada manusia, tetap saja guru bernama manusialah yang menjadi sumber utama untuk keperluan ilmu yang kita butuhkan. Meskipun media sosial memiliki berjuta- juta informasi yang akan memanjakan intelektual kita, tetap saja media sosial tidak memiliki rasa atau akhlak untuk dijadikan pedoman berguru. Guru bernama manusialah yang memiliki rasa untuk bisa ditiru setiap muridnya.

Sebegitu canggihnya media sosial, jangan sampai kita diperbudak olehnya. Zaman sekarang, setiap orang memiliki medianya sendiri untuk menyebarkan pemikiran- pemikiran, jika kita terlalu terpatok sama keilmuan yang ditawarkan media sosial tanpa memiliki seorang guru, maka potensi tersesat didalam hutan pemikiran pun kemungkinan akan terjadi. (M.Si)



1 Response to "Nyatanya, Guru Terbaik Bukan Social Media"

  1. Memang sosial media itu bisa membentuk karakter seseorang og

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel